Rencana Badan
Gizi Nasional (BGN) membangun marketplace khusus untuk pengadaan bahan baku
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka babak baru dalam tata kelola program
pangan berskala nasional. Platform digital tersebut dirancang untuk membuat
proses pembelian bahan pangan lebih transparan dan memungkinkan pemerintah
memantau pemasok, harga, transaksi, hingga aspek perpajakan.
Kepala BGN
Sudaryono menyampaikan bahwa marketplace tersebut akan mengadopsi mekanisme
Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah (SIPLah). Pada tahap awal, sejumlah
komoditas utama akan menjadi perhatian, antara lain beras, minyak goreng, ayam,
telur, daging, ikan, dan susu. BGN juga merencanakan mekanisme verified
seller serta mengarahkan pengadaan sedapat mungkin kepada pemasok di
wilayah setempat.
Rencana ini
menarik karena persoalan pengadaan merupakan salah satu titik rawan dalam
program MBG. BGN sendiri sebelumnya telah mengingatkan mitra agar tidak
melakukan markup harga bahan baku dan menyebut adanya sanksi bagi mitra
yang terbukti melakukan pelanggaran.
Namun, apakah
digitalisasi pengadaan otomatis membuat korupsi menjadi sulit dilakukan?
Jawabannya tidak
sesederhana itu.
Mengapa
marketplace BGN dapat membantu mencegah korupsi?
1. Mengurangi
transaksi yang tidak terdokumentasi
Salah satu
keunggulan utama marketplace adalah seluruh transaksi dapat direkam secara
digital. Pemerintah dapat mengetahui siapa pemasoknya, barang apa yang dibeli,
berapa jumlahnya, berapa harganya, dan kapan transaksi dilakukan.
Dibandingkan
mekanisme yang sangat bergantung pada transaksi manual, jejak digital tersebut
dapat mempersempit ruang untuk membuat transaksi fiktif atau mengubah dokumen
setelah transaksi berlangsung.
Konsep ini
sejalan dengan arah kebijakan pengadaan pemerintah yang mendorong pengadaan
secara elektronik. Dalam kerangka pengadaan pemerintah, e-marketplace
memang telah menjadi bagian dari sistem pengadaan elektronik.
2. Lebih mudah
mendeteksi markup harga
Marketplace juga
berpotensi menciptakan basis data harga yang sangat berguna.
Misalnya, apabila
SPPG di satu daerah membeli telur dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada
SPPG lain di daerah yang memiliki kondisi pasar serupa, sistem dapat memberikan
tanda peringatan.
Dengan data yang
terkumpul secara terpusat, pengawasan tidak harus menunggu sampai laporan
dugaan penyimpangan muncul. Anomali harga dapat dianalisis lebih awal.
Dalam konteks
ini, gagasan BGN memiliki relevansi dengan perkembangan pengadaan elektronik
pemerintah. LKPP, misalnya, menyebut fitur e-audit pada Katalog
Elektronik V6 memungkinkan APIP melakukan pengawasan secara real time
terhadap transaksi.
3.
Mempersempit interaksi langsung antara pembeli dan pemasok
Korupsi pengadaan
tidak selalu berbentuk pencurian uang secara langsung. Salah satu risiko adalah
hubungan tidak wajar antara pihak yang membeli dengan pihak yang menjual.
Marketplace dapat
mengurangi sebagian interaksi informal tersebut. Pemilihan barang, harga,
pemesanan, pembayaran, dan dokumentasi dilakukan melalui sistem.
Secara teoritis,
semakin sedikit ruang untuk melakukan negosiasi di luar sistem, semakin kecil
pula ruang untuk melakukan kesepakatan tersembunyi.
4. Mempermudah
audit
Digitalisasi
memungkinkan auditor memperoleh data dalam format yang lebih terstruktur.
Alih-alih
memeriksa dokumen dari ribuan dapur MBG satu per satu secara manual, auditor
dapat menganalisis pola transaksi secara nasional.
Misalnya:
- pemasok yang terus-menerus memenangkan transaksi;
- harga yang secara konsisten berada di atas harga
pasar;
- transaksi dalam jumlah tidak lazim;
- pembelian dari pemasok yang memiliki hubungan
tertentu dengan pengelola;
- pola transaksi antardaerah yang tidak wajar.
Dengan kata lain,
marketplace bukan hanya tempat membeli barang, tetapi dapat menjadi infrastruktur
pengawasan berbasis data.
Tetapi
marketplace bukan jaminan bebas korupsi
Di sinilah sisi
kontra dari rencana tersebut perlu diperhatikan.
Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kajian tata kelola e-procurement 2025
justru memberikan catatan penting: digitalisasi pengadaan belum otomatis
menghilangkan korupsi. Kajian tersebut menyatakan bahwa risiko penyimpangan
masih dapat muncul sejak tahap perencanaan, penyusunan spesifikasi dan harga
perkiraan, pemilihan penyedia, hingga pelaksanaan kontrak.
Artinya, korupsi
dapat berpindah dari transaksi menjadi manipulasi sistem atau proses sebelum
dan sesudah transaksi.
1. Risiko
manipulasi bisa bergeser ke tahap verifikasi pemasok
BGN berencana
menggunakan mekanisme verified seller. Secara prinsip, hal ini positif
karena tidak semua pihak dapat langsung menjadi pemasok.
Namun muncul
pertanyaan penting:
Siapa yang
memverifikasi para pemasok tersebut dan bagaimana proses verifikasinya
dilakukan?
Jika proses
verifikasi tidak transparan, muncul potensi persoalan baru. Misalnya, pemasok
tertentu mendapatkan akses ke marketplace sementara pemasok lain yang
sebenarnya memenuhi syarat justru tidak mendapatkan akses.
Dengan demikian,
mekanisme verified seller harus memiliki:
- kriteria yang jelas;
- prosedur pendaftaran yang terbuka;
- alasan penerimaan atau penolakan yang dapat
ditelusuri;
- mekanisme keberatan;
- pemeriksaan konflik kepentingan;
- serta audit berkala.
Jika tidak,
marketplace hanya memindahkan titik rawan dari "siapa yang
memenangkan pembelian" menjadi "siapa yang boleh masuk
ke dalam sistem".
2. Risiko
monopoli atau konsentrasi pemasok
Marketplace
memang dapat meningkatkan transparansi, tetapi belum tentu otomatis
meningkatkan persaingan.
Jika jumlah
pemasok yang terverifikasi terlalu sedikit, pasar justru dapat terkonsentrasi
pada kelompok tertentu.
Hal ini menjadi
penting karena MBG memiliki skala permintaan yang sangat besar. Semakin besar
volume pembelian pemerintah, semakin besar pula nilai ekonominya bagi pemasok.
Karena itu, BGN
perlu memastikan bahwa marketplace tidak berubah menjadi pintu masuk bagi
segelintir perusahaan besar saja.
Salah satu
prinsip dalam kebijakan pengadaan pemerintah adalah meningkatkan peran UMKM dan
pemerataan ekonomi.
Dalam konteks
MBG, hal tersebut juga relevan dengan rencana BGN untuk mengutamakan pemasok
lokal.
3. Preferensi
pemasok lokal memiliki manfaat, tetapi juga tantangan
Rencana BGN untuk
mengutamakan bahan pangan dari daerah setempat memiliki alasan ekonomi. Uang
yang dibelanjakan untuk MBG diharapkan ikut berputar di daerah.
Contohnya, jika
SPPG berada di Mojokerto dan kebutuhan telur tersedia di Mojokerto, pembelian
akan diarahkan kepada pemasok lokal sebelum mencari pemasok dari luar daerah.
Namun kebijakan
tersebut perlu dirancang hati-hati.
Jika preferensi
lokal terlalu ketat, SPPG bisa mengalami kesulitan ketika:
- stok lokal tidak mencukupi;
- harga lokal terlalu tinggi;
- kualitas tidak memenuhi standar;
- pemasok lokal hanya dikuasai beberapa pelaku usaha.
Karena itu,
prinsip "lokal terlebih dahulu" sebaiknya tidak mengalahkan prinsip kualitas,
keamanan pangan, ketersediaan, harga wajar, dan persaingan sehat.
4. Manipulasi
kualitas tetap mungkin terjadi
Persoalan
pengadaan pangan tidak hanya mengenai harga.
Ada pertanyaan
yang jauh lebih sulit:
Bagaimana
sistem memastikan bahwa barang yang dibayar sesuai dengan barang yang
benar-benar dikirim?
Misalnya dalam
sistem tercatat:
Telur grade
tertentu, berat tertentu, jumlah tertentu.
Tetapi barang
yang tiba di dapur MBG memiliki kualitas atau ukuran berbeda.
Marketplace dapat
mencatat transaksi dengan sangat rapi, tetapi pencatatan digital tidak dengan
sendirinya membuktikan kondisi fisik barang.
Karena itu,
digitalisasi harus disertai mekanisme pemeriksaan kualitas dan kuantitas di
lapangan.
Peraturan BGN
mengenai keamanan dan mutu pangan MBG sendiri mencakup rantai pasok mulai dari
pengadaan dan penerimaan bahan baku sampai penyimpanan, pengolahan, pengiriman,
dan penerimaan makanan.
Dengan demikian,
marketplace seharusnya menjadi satu bagian dari sistem pengawasan, bukan
seluruh sistem pengawasan.
5. Risiko
"korupsi digital"
Ada anggapan
bahwa jika semuanya sudah menggunakan aplikasi, korupsi menjadi sulit
dilakukan. Pandangan tersebut terlalu sederhana.
Teknologi hanya
mengubah bentuk risiko.
Jika sebelumnya
seseorang dapat memanipulasi kuitansi, dalam sistem digital mungkin saja
manipulasi dilakukan terhadap:
- data pemasok;
- spesifikasi barang;
- harga referensi;
- algoritma atau mekanisme pencarian;
- sistem verifikasi;
- data penerimaan barang;
- atau akses pengguna.
Karena itu, BGN
membutuhkan audit teknologi selain audit keuangan.
KPK dalam
kajiannya mengenai e-procurement juga menekankan bahwa permasalahan
pengadaan tidak berhenti pada persoalan digitalisasi. Kualitas perencanaan,
integrasi sistem, keandalan sistem elektronik, serta pengawasan tetap menjadi
persoalan penting.
6. Marketplace
juga dapat membebani pemasok kecil
Ada sisi lain
yang perlu diperhatikan: digitalisasi dapat meningkatkan transparansi sekaligus
menciptakan hambatan bagi pelaku usaha kecil.
Peternak telur,
petani, koperasi, atau pedagang pangan lokal mungkin memiliki produk yang
memenuhi kebutuhan MBG, tetapi belum tentu memiliki kemampuan administratif dan
digital yang sama dengan perusahaan besar.
Menariknya,
pengalaman SIPLah menunjukkan bahwa platform digital memang dapat digunakan
untuk membuka akses pasar bagi UMK dan koperasi. Kemendikdasmen pada 2026
menyebut digitalisasi SIPLah dan proses onboarding LKPP diarahkan untuk
memperluas keterlibatan UMK-K dalam ekosistem pengadaan.
Namun pengalaman
tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pendampingan.
Jika BGN ingin
marketplace MBG benar-benar menjadi sarana pemberdayaan ekonomi lokal, pemasok
kecil perlu dibantu dalam hal:
- registrasi;
- pemenuhan persyaratan;
- administrasi perpajakan;
- penggunaan platform;
- standar kualitas;
- pembayaran digital;
- dan pemenuhan volume pesanan.
Pro dan kontra
secara ringkas
|
Aspek |
Potensi positif |
Potensi negatif |
|
Transparansi |
Transaksi dan pemasok
lebih mudah dilacak |
Transparansi bergantung
pada data yang dimasukkan |
|
Harga |
Lebih mudah
membandingkan harga |
Harga dapat dimanipulasi
sebelum masuk sistem |
|
Korupsi |
Mengurangi ruang
transaksi informal |
Korupsi dapat bergeser
ke verifikasi dan pengaturan sistem |
|
Pengawasan |
Data terpusat memudahkan
audit |
Membutuhkan kemampuan
analisis dan pengawasan yang kuat |
|
Pemasok |
Membuka akses pasar yang
lebih luas |
Persyaratan digital
dapat menyulitkan usaha kecil |
|
Pemasok lokal |
Mendorong perputaran
ekonomi daerah |
Bisa mengurangi pilihan
jika pasokan lokal terbatas |
|
Kualitas |
Standar dapat dimasukkan
ke sistem |
Kondisi fisik barang
tetap perlu diperiksa |
|
Efisiensi |
Berpotensi mempercepat
transaksi |
Sistem yang buruk justru
dapat menambah birokrasi |
|
Persaingan |
Harga dan pemasok lebih
mudah dibandingkan |
Risiko konsentrasi pada
pemasok tertentu tetap ada |
Marketplace
perlu dipandang sebagai alat, bukan obat antikorupsi
Pada akhirnya,
perdebatan mengenai marketplace BGN sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan
apakah platform tersebut "bisa mencegah korupsi" atau tidak.
Pertanyaan yang
lebih tepat adalah:
“Apakah
desain marketplace tersebut mampu menghilangkan atau setidaknya mempersempit
titik-titik rawan korupsi sepanjang rantai pengadaan MBG?”
Pengalaman
pengadaan pemerintah menunjukkan bahwa digitalisasi memang dapat memperkuat
transparansi. LKPP sendiri mendorong proses pengadaan yang terbuka, adil,
kompetitif, dan akuntabel, sementara KPK mencatat bahwa e-procurement
tetap memiliki risiko jika tata kelolanya lemah.
Karena itu,
marketplace BGN akan lebih efektif jika dibangun bersama sejumlah lapisan
pengaman.
Pertama, harga
referensi harus transparan dan diperbarui secara berkala mengikuti kondisi
pasar.
Kedua, data
pemasok dan pemilik manfaat (beneficial ownership) perlu diperiksa
untuk mengurangi risiko perusahaan yang sebenarnya terafiliasi menguasai
transaksi.
Ketiga, algoritma
atau mekanisme pemilihan pemasok perlu dapat diaudit, terutama apabila
sistem secara otomatis merekomendasikan pemasok tertentu.
Keempat, data
transaksi perlu terhubung dengan sistem pengawasan dan audit, sehingga
anomali dapat terdeteksi tanpa menunggu pemeriksaan setelah uang dibelanjakan.
Kelima, penerimaan
barang di SPPG harus menjadi bagian dari sistem. Barang yang dipesan,
dibayar, dan diterima harus dapat dicocokkan secara digital.
Keenam, kanal
pengaduan harus terbuka, baik bagi pemasok maupun masyarakat, dengan
perlindungan terhadap pelapor.
Ketujuh, BGN
perlu memastikan akses yang adil bagi koperasi, UMKM, petani, peternak, dan
pemasok lokal, sehingga digitalisasi tidak justru membuat pasar MBG
dikuasai segelintir pemain.
#Catatan
Redaksi HukumInfo#
Rencana
marketplace khusus bahan baku MBG memiliki dasar yang cukup kuat dari
perspektif transparansi. Dengan transaksi yang tercatat, pemasok yang
terverifikasi, data harga yang terkumpul, dan kemungkinan pengawasan berbasis
data, sistem tersebut berpotensi mempersempit sejumlah celah penyimpangan.
Tetapi marketplace
tidak sama dengan antikorupsi.
Teknologi dapat
membuat transaksi lebih mudah dilacak, tetapi tidak otomatis menjamin bahwa
harga yang ditetapkan wajar, pemasok dipilih secara adil, barang yang dikirim
sesuai kualitas, atau tidak terjadi konflik kepentingan.
Justru karena
nilai dan skala MBG sangat besar, desain tata kelolanya harus memperhatikan
seluruh rantai: perencanaan → verifikasi pemasok → penetapan harga →
pemesanan → pembayaran → pengiriman → pemeriksaan kualitas → audit → pengaduan.
Jika seluruh
rantai tersebut diawasi, marketplace dapat menjadi instrumen penting untuk
memperkuat akuntabilitas MBG. Sebaliknya, jika hanya digitalisasi transaksi
yang dilakukan tanpa memperbaiki proses di belakangnya, risiko penyimpangan
tidak hilang—ia hanya dapat berpindah ke titik yang lebih sulit terlihat.
Dengan demikian,
keberhasilan marketplace BGN nantinya tidak terutama ditentukan oleh seberapa
canggih aplikasinya, melainkan oleh seberapa transparan aturan mainnya,
seberapa kuat pengawasannya, dan seberapa terbuka datanya untuk diaudit.
Disclaimer:
Informasi dan pendapat dalam tulisan ini disajikan semata-mata untuk tujuan
informasi dan edukasi publik. Tim HukumInfo tidak bertanggung jawab atas segala
bentuk penggunaan, penafsiran, maupun keputusan yang diambil berdasarkan isi
tulisan ini. Pembaca diharapkan melakukan verifikasi dan penilaian secara
mandiri sesuai kebutuhan.
0 Komentar:
Login